Merah Putih dan Space X, Era Baru Indonesia dalam Persaingan Digital

Merah Putih dan Space X, Era Baru Indonesia dalam Persaingan Digital

Tue, Aug 14, 2018 4:57 AM
Newsroom by Vesti WK

Pernah merasakan gangguan telekomunikasi, jaringan pemancar televisi yang terganggu sampai kesulitan transaksi di ATM pada 2017? Kini pemerintah Indonesia meyakinkan hal tersebut tidak akan terjadi lagi.

Peluncuran satelit Merah Putih pada 7 Agustus 2018 jadi kado kemerdekaan Indonesia ke-73. Menggandeng perusahaan peluncur satelit milik Elon Musk, SpaceX, perusahaan raksasa milik negara Telkom sudah mengorbitkan satelit terbaru Merah Putih atau Telkom-4 di lapang peluncuran SpaceX Cape Canaveral, Air Force Station, Florida, Amerika Serikat. Satelit ini diluncurkan pada malam hari karena pada bulan Agustus posisi matahari berada di selatan Bumi, hal ini untuk memastikan daya satelit bisa terisi secepatnya melalui solar panel saat sudah keluar dari atmosfer Bumi.

Pembangunan Satelit Merah Putih sendiri terlaksana berkat kerjasama dengan 2 perusahaan Amerika Serikat, yakni SSL sebagai pabrikan pembuat satelit, serta SpaceX sebagai perusahaan penyedia jasa peluncuran satelit. Satelit ini memiliki tugas untuk memperkuat bisnis telekomunikasi dan satelit Telkom yang telah beroperasi sebelumnya. Tidak hanya itu, Satelit Merah Putih juga menjadi bukti posisi Indonesia dalam kancah dunia digital di tingkat internasional.

Apa saja kontribusi yang diberikan dari peluncuran roket yang membawa satelit Merah Putih ini?

1. Pembaruan

Peluncuran setelit menuju orbit 108 bujur timur ini akan menjadi pembaruan satelit Telkom-1 yang telah uzur alias berusia 18 tahun dalam orbit bumi, yang mana rata-rata usia satelit mengorbit adalah 15 tahun. Jadi, Telkom sendiri tidak ingin mengulang kejadian offline nya beberapa jaringan komunikasi yang pernah terjadi di pertengahan 2017 silam.

2. Satelit ke-10

Satelit Merah Putih kini menjadi satelit ke-10 yang dioperasikan oleh Telkom Indonesia. Satelit Palapa A1 yang diluncurkan pada 9 Juli 1976 menjadi satelit pertama milik Telkom. Selanjutnya, Telkom melancarkan bisnis satelitnya lewat peluncuran Satelit Palapa A2 pada 1977.

Kemudian, Telkom telah meluncurkan Palapa B1 pada 16 Juni 1983, Palapa B2P pada 21 Maret 1987, Palapa B2R pada 14 April 1990, Palapa B4 pada 14 Mei 1992, Telkom 1 pada 13 Agustus 1999, Telkom 2 pada 15 November 2005, Telkom 3S pada 15 Februari 2017, dan yang terbaru Satelit Merah Putih.

Saat ini, Satelit Telkom 2 ditargetkan beroperasi sampai tahun 2020, Telkom 3S beroperasi sampai tahun 2032, dan Merah Putih hingga tahun 2034. Tentu saja hal ini akan mendorong semakin mudahnya Indonesia menjadi pemain utama dalam persaingan industri digital khususnya di Asia Tenggara dan Asia Selatan.

3. Teknologi SpaceX Murah dan Berkualitas

SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk menerapkan terobosan baru dengan merancang roket yang bisa digunakan kembali usai peluncuran.

"Relatif pembuatannya lebih murah, terutama peluncurannya. Untuk peluncuran memang kita bisa hemat 60% karena teknologi yang reusable yang tadi balik lagi (roket SpaceX). Ini teknologi luar biasa, ini buat kita menguntungkan sebagai pengguna," ujar Direktur Human Capital Management Telkom Herdy R. Harman di gedung Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Sementara terkait total investasi, mulai dari pembuatan, peluncuran, hingga asuransi dari satelit Merah Putih itu menelan biaya USD 166 juta atau Rp 2,39 triliun (kurs USD 1 = Rp 14.443).

Sementara, bila dibandingkan dengan satelit Telkom 3S, perusahaan plat merah ini harus merogoh kocek sebesar USD 215 juta atau setara dengan Rp 3,1 triliun. "Ya, itu kalau secara total 40% lebih hemat," ucapnya.

Saat ini, pukul 1.18 waktu Amerika Serikat atau 12.18 WIB, satelit Merah Putih akhirnya melesat ke luar angkasa. Satelit anyar Telkom ini akan menempati slot orbit 108 derajat Bujur Timur, tepatnya berada di atas selat Karimata.

Rikcy Kusnandar, Manajer Proyek Satelit Merah Putih mengatakan terhitung sampai 11 hari ke depan pasca peluncuran satelit Merah Putih akan melalui proses menuju slot orbit 108 derajat Bujur Timur.

4. Menggunakan Teknologi Roket Falcon dengan Tingkat Keberhasian 98 persen

Telkom Indonesia memilih bekerja sama dengan perusahaan luar angkasa milik Elon Musk, SpaceX. Hal ini dilakukan karena mereka bisa memberikan penghematan biaya peluncuran. Roket Falcon 9 memiliki sistem pendorong roket yang bisa digunakan berulang kali.

Sebelumnya, Roket Falcon 9 telah menerbangkan satelit milik Bangladesh, dan kini yang kedua akan membawa Satelit Merah Putih. Teknologi yang diterapkan SpaceX itu dapat menghemat biaya, karena sistem roket pendorong dapat digunakan kembali hingga sepuluh kali pemakaian.

5. Siap Kuasai Asean dan Asia Selatan

Satelit Merah Putih atau Telkom-4 akan membawa 60 transponder aktif yang terdiri dari 24 transponder C-Band dan 12 transponder Extended C-Band yang akan melayani wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta 24 transponder C-Band yang akan menjangkau kawasan Asia Selatan. Transponder sendiri adalah alat untuk menerima sinya yang dikirim dari Bumi untuk diolah dan kemudian kembali dikirimkan ke Bumi.

6. Peluncuran Merah Putih Pertaruhan Elon Musk

Pada peluncuran Falcon 9 dengan booster Block 5 versi baru pada 11 Mei lalu, rencana SpaceX menerbangkan secara terpisah roket tersebut sudah ada. Kepala Eksekutif SpaceX, Elon Musk menyatakan waktu itu perusahaanya akan sangat teliti untuk memisahkan roket ini. Namun harus dibuktikan Roket Falcon 9 masih bisa digunakan kembali nantinya. 

"Ironisnya, kami perlu memisahkan untuk mengonfirmasi tidak perlu dipisahkan," ungkapnya, dilansir laman Ars Technica, Selasa 7 Agustus 2018.

Tiga bulan setelah misi pertamanya dengan booster Block 5 tersebut, Roket Falcon 9 kembali ke udara untuk membawa Satelit Merah Putih pada Selasa siang 7 Agustus 2018. 

Walaupun SpaceX belum berbicara resmi tentang proses pembongkaran inti booster Block 5, kabarnya SpaceX menemukan tidak ada hambatan berarti. Selain itu, jika peluncuran hari ini sukses, nampaknya tinggal menunggu waktu penerbangan ketiga dari roket tersebut.