Revolusi Robot, China Pamer Dokter, Guru dan Prajurit Otomatis

Mon, Aug 20, 2018 4:22 PM
Berita by Hafidz Mukti Ahmad

Robot yang mampu mendiagnosis penyakit, bermain badminton dan membuat manusia terkesan dengan kemampuan musik mereka diyakini akan menjadi bentuk revolusi ekonomi baru bagi China, seperti tercermin dalam sebuah pameran di Beijing dengan tema “Automated Future”.

Bintang paling populer tahun ini adalah Konferensi Robot Dunia yang baru berakhir Minggu (19/8), yang mana tanpa diragukan lagi jadi pertarungan robot industri amatir, kecil yang sangat mengejutkan dan mendapat sambutan luar biasa dari pengunjung.

“Dengan robot, saya benar-benar mampu mengekspresikan diri saya,” kata Huang Hongsong, satu dari banyaknya kreator yang ikut dalam ajang ini.

Di luar pameran tersebut, China sangat serius dalam menjajaki dunia robot untuk membawa gelombang baru perekonomian dunia. Manufaktur yang murah dengan populasi raksasa di dunia, meembuat China akan menguasai dunia dalam beberapa dekade ke depan. Namun satu hal yang menjadi penghambat adalah usia lanjut yang cukup besar di negeri tirai bambu ini.

Mesin otomatis menjadi sangat mungkin saat President Xi Jinping pada 2014 menyebutnya sebagai “revolusi robot”. Dalam pameran tersebut, sebuah atmosfer baru telah terasa bagaimana mesin mulai menggantikan manusia.

Mengatur Keseimbangan

Di 2020, China menargetkan setengah dari produksi industri robot di negara itu terjual yang mana hingga kini telah tercapai 27 persen - ditargetkan menjadi 70 persen pada 2025.

“Robot adalah perhiasan dalam mahkota industri, sebuah penggagas baru revolusi industri,” kata Xin Guobin, Wakil Menteri Indusrti. Namun, hal itu perlu juga diimbangi oleh kebijakan soal potensi hilangnya pekerjaan manusia, - Bank Dunia pada 2016 mengatakan otomatisasi akan mengancam 77 persen pekerjaan di China, khususnya di bidang perburuhan.

Namun mau tidak mau, industri robot akan semakin mumpuni.

Hingga saat ini China jadi pasar nomor satu untuk industri robot yang mampu menjual 141.000 unit tahun lalu dan diprediksi akan meningkat 20 persen setiap tahun.

“China punya kesempatan besar untuk meningkatkan industri otomatisasi lewat robot,” kata Karel Eloot, konsultan ahli dari Firma McKinsey.

Karel menambahkan China masih memiliki banyak sekali ruang kosong untuk tumbuh melawan kompetitor mereka seperti Jepang dan Jerman. Qu Daokui, Presiden Firma Siasun mengatakan salah satu robot ular China sangat mengagumkan dengan tinggal menambahkan kehalusan juga penyempurnaan AI.

“Apa yang perlu kita perbaiki adalah soal akurasi, realibilitas dan kecepatan. Kemudian soal kepintaran dan adaptif yang akan membuatnya berbeda.”

Robot Dokter

Di luar pabrikasi robot China, permintaan dan kebutuhan robot semakin nyata, seperti mulai dipakai di restoran dan bank, bahkan memgantarkan parsel.

China iFlytek, spesialisasi dalam sistem pengenalan percakapan, menghadirkan robot “asisten medis” terbaru mereka di Beijing yang mampu mengidentifikasi 150 penyakit dan bahkan lulus dalam kualifikasi medis nasional China dengan skor tertinggi.

Robot tersebut didampingi oleh dokter, bertanya kepada pasien beberapa diagnosis dan juga melakukan analisis X-ray.

“Robot ini telah digunakan di rumah sakit sejak Maret dan telah membuat 4.000 diagnosis.”

Chindex, salah satu perusahaan konglomerat di China akan menjamin distribusi “Da Vinci System,” di China, sebuah robot dari Amerika dengan tangan dan kamera berteknologi tinggi untuk melakukan operasi. Hal ini akan menjadi pendobrak keterbatasan mata manusia, meskipun hal itu masih harus dibantu oleh manusia.

“Ini hanya akan membantu dokter, tidak bisa menggantikannya. Menjadi tidak etis jika sepenuhnya diserahkan kepada robot. Tubuh manusia masih masih sangat kompleks,” kata Liu Yu dari Chindex.