Demikian, “waktu ialah juru nasehat paling bijak yang pernah ada”, tutur Pericles (495-429 SM), seorang jenderal Athena. Sebagian khalayak lain bisa jadi bersahabat dengan ungkapan, “waktu adalah uang”, merujuk kutipan Benjamin Franklin. Manusia kemudian menandai arti pentingnya waktu ini dengan mencipta perangkat paling sensibel guna memantau waktu: jam. Di Abad 16 wujud paling kondang dari jam ditandai dengan rantai menjulur yang dikaitkan ke rompi, kerah atau ikat pinggang. Itulah masa ketika jam saku berjaya.

Syahdan, mode jam berpaling dari satu bentuk ke rupa lain. Kemudian Perang Dunia I datang, bukan cuma peluru, militer pun membutuhkan perkakas paling praktis yang bisa dipakai mengenggam waktu, maka jam tangan jadi jawaban baku. Dalam perjalanannya, jam saku perlahan tergeser, diganti evolusi jam tangan. Jam bermesin mekanik yang sempat bergeming sebegitu lama bergoyang seiring kedatangan arloji elektrik dari Lancaster. Keajaiban Jepang lantas terbit di penghujung dekade 1960-an, jam tangan quartz (berbaterai) pertama diproduksi Seiko.

Industri jam, -yang notabene “bisnis mengurusi kebutuhan waktu”-, tanpa kecuali, tak bisa bersembunyi dari denyut waktu. Rasanya baru kemarin, orang kagum dengan jam tangan tahan air, tiba-tiba saja teknologi wearable telah mencapai titik masifikasinya. Jam pintar (smart watch) kini menjadi perhiasan milenial. Disana, terendap tambang bisnis besar. Bulan ini Tim Cook, CEO Apple, mengumumkan penjualan Apple Watch naik lebih dari 50% sejak tahun lalu. Apple Watch melompati ramalan analisis dan pelaku pasar. Pendapatan yang dicetak sebesar 45,4 juta USD, di saat Wall Street memprediksi hanya akan mencapai 44,89 juta Dollar.

Bulan Mei silam, Fossil Group, korporasi yang membawahi berbagai brand fashion dan perangkat gaya hidup, -termaksud jam-, dikabarkan sahamnya merosot. Nilai saham Fossil sempat turun hingga 20%, selaras pendapatan kuartal pertama yang muram. Bersamaan dengan peristiwa kerugian Fossil, kemelorotan ini berkawin dengan pencapaian Apple Watch. Mereka mencetak angka pertumbuhan dari tahun ke tahun sebesar 31%. Sampai disini, jam mahal bertahta emas, berhias berlian, tak lagi menyilaukan lantai saham.

CSS Insight, lembaga analis dan informasi pasar, tahun lalu menyodorkan paket ramalan. Industri teknologi wearable ditebak akan mencapai angka fantatisnya dalam 3 tahun ke depan. Menurut mereka, di tahun 2020 wearable device bisa menembus penjualan hingga 34 milliar USD. Angka tersebut mencakup 100 juta USD untuk segmen jam pintar saja. Lantas, bagaimana gejala digital ini ditanggapi industri jam tradisional? Akan keras terdengar di telinga. Serial perang urat syaraf terbentang pada tahun-tahun belakangan.

Bassel Choughari mewakili Berenberg Bank, -institusi yang turut mengucurkan dana bagi pembuat jam tradisional-, menuturkan, “...keseluruhan pasar jam tangan Swiss hanya 2% dari total volume, tetapi nilai keuangannya lebh dari 50%.” Menurutnya, impak serangan jam pintar akan menyasar ke merk-merk kecil yang tidak begitu kuat. Tuan satu ini menegaskan, membeli jam mewah menyimpan nilai yang peka jaman. Sebaliknya jam berbasis teknologi digital harga jual bekasnya turun hingga 50% di tahun pertama.

Jean-Claude Biver, CEO dari label legendaris Tag Heuer, ikut menyahut, “Tidak ada keabadian, itu berarti akan menjadi usang ... siapa yang ingin membeli jam tangan seharga $10.000 - $20.000 yang menjadi usang setelah 5 atau 10 tahun?” Biver berusaha menohok dengan menegaskan bahwa teknologi akan terus berevolusi. Apa yang tampak canggih tahun ini, akan menjadi sangat usang 5 tahun ke depan. Tanpa kecuali teknologi jam pintar.

Kelak jika jam pintar merangsek ke harga baru, katakan di kisaran 10 ribu dollar ke atas, membelinya akan serupa investasi buruk. Hal tersebut tidak berlaku ke jam tradisional yang glamour, klasik dan memiliki nilai artistik serta pasarnya sendiri. Sekarang, semua yang diselorohkan Biver tampak benar. Pelan-pelan Anda mulai berpikir mencopot jam pintar di tangan, lantas melirik lapak e-commerce. Melego secepatnya. Ada perasaan menyesal.

Akan tetapi, semewah apa jam yang dibilang Biver, ia bukan pelayan multi fungsi. Jam mewah tradisional itu bisu dan tuli. Dia tak akan berbisik ke telinga mu, menerima pesan pendek, atau menasehati pakailah jas hujan, bukankah ramalan cuaca terlihat di jam-mu? Ia menyilapkan mata dalam harga, tetapi tak cakap kegunaan. Tidak seperti rival-nya, jam yang dianjurkan Biver ini tidak mempunyai Near Field Communication (NFC), memungkinkan melakukan pembayaran, menjadi kunci hotel serta membuka garasi.

Ironis, Biver sendiri tak sepenuhnya jujur dengan kepercayaan diri yang diapungkannya. Belum lama ini Tag Heuer meluncurkan jam tangan pintar edisi terbaru. Menyusul di tempat lain, Fossil menggandeng Intel. Guess menandatangani kesepakatan dengan produsen jam tangan cerdas Mars. Terang sekali, jaman terus bergulir. Masa berubah. Waktu memang unsur yang tak ditemukan peredamnya. Siapa gerangan akan melawannya? Biver pun tidak! Dia teramat paham, “Waktu ialah juru nasehat paling bijak yang pernah ada.” Termaksud di bisnis yang memproduksi piranti waktu itu sendiri.