Ketika seorang programmer sedang sibuk bekerja, seolah isi dunia lainnya tak semenarik kode-kode script yang dihadapinya. Sibuk, sibuk, dan terus sibuk. Mereka akan berkutat dengan layar laptop dan beragam bahasa pemrograman untuk menciptakan suatu produk digital yang bisa diakses oleh publik, entah itu website, aplikasi mobile, atau yang lainnya. Tak heran jika muncul kesan tidak ada waktu untuk apapun. Lantas, benarkah demikian?

Apakah Anda merasakan hal seperti ini? Waktu berlalu dengan akurat. Namun, mengapa seakan tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru. Tak ada waktu luang untuk update status atau hanya sekadar berkomentar. Bahkan lebih ekstrem lagi, seolah tak ada waktu untuk berpikir dan bernapas. Jika Anda merasa demikian, bisa jadi artinya Anda termasuk orang yang kecanduan kerja. Diakui atau tidak, di balik asyiknya mengotak-atik kode hingga menghasilkan suatu produk digital yang membanggakan, ada sisi kehidupan lain dari programmer yang dipertaruhkan. Mereka cenderung mengesampingkan kesehatan, keluarga bahkan memikirkan memiliki pasangan. Itulah pentingnya manajemen waktu bagi programmer, agar mereka bisa membagi waktu untuk pekerjaan dan kehidupan lainnya.

Seorang programmer dituntut untuk selalu meng-update pengetahuannya, karena teknologi itu sendiri berkembang begitu pesatnya. Hal tersebut memang benar, namun tidak mutlak. Artinya, programmer memang harus senantiasa belajar, tetapi tak semua hal-hal baru harus dipelajari. Untuk tetap relevan, Anda hanya perlu fokus belajar. Dengan begitu, tak hanya pengetahuan yang bertambah, tetapi Anda juga akan semakin terampil. Bahkan, Anda bisa membuat perubahan yang dapat membedakan ‘terobosan’ Anda dari developer lain. Manajemen waktu harus menjadi bagian dari pekerjaan Anda. Artinya, luangkan waktu untuk belajar setiap hari. Tak perlu terlalu lama, minimal 25 menit sehari untuk membaca dan bereksperimen setiap hari sudah cukup untuk menambah ilmu serta meningkatkan keterampilan dengan cepat.

Bagi para programmer, waktu sangatlah berharga. Tak heran jika mereka ‘gila kerja’ untuk bisa menghasilkan suatu karya teknologi. Sebenarnya, developer bisa bekerja sekaligus belajar hal-hal baru. Bisa jadi Anda merasa bahwa waktu yang digunakan untuk mempelajari fitur baru seolah berakhir ketika Anda berkutat dengan kode dan kembali bekerja. Dengan wawasan yang lebih luas dan pemahaman yang lebih mendalam tentang teknologi akan mampu meminimalisir kesalahan. Bahkan, tak menutup kemungkinan Anda bisa lebih kreatif dalam menciptakan produk-produk digital yang lebih baik.

Sudah dapat dipastikan semua progammer senang jika ‘laris manis’, termasuk Anda tentunya. Semakin banyak proyek yang dikerjakan, konsekuensinya semakin sibuk yang artinya semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk bekerja. Di sinilah manajemen waktu dibutuhkan agar semua proyek bisa tertangani dengan baik dan dapat diselesaikan tepat sesuai deadline-nya. Sayangnya, tak semua programmer mampu mengelola waktunya dengan baik. Lagi-lagi dua kesalahan masih sering dilakukan, terlalu lama berpikir dan terlalu singkat waktu untuk beraksi. Resikonya, mereka cenderung ‘kejar setoran’ menjelang deadline. Untuk menunjang stamina tak jarang mengonsumsi obat tertentu sebagai ‘doping’ dan kopi sebagai teman kerja. Rela kerja lembur bahkan ekstrem hingga 24 jam setiap hari tanpa tidur agar deadline proyek terpenuhi. Ritme kerja seperti ini tidaklah sehat. Alih-alih deadline terpenuhi, justru gangguan kesehatan mendera.

Sebagai programmer andal, Anda harus mampu mengelola harapan dari orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan Anda tentunya, entah pimpinan atau klien. Katakan bahwa Anda punya timeline tersendiri dalam bekerja, sehingga tidak terlalu pusing memenuhi tuntutan-tuntutan yang berpotensi merusak kinerja secara keseluruhan. Ketika Anda bekerja dengan ritme yang teratur, hasil yang diperoleh pun akan berkualitas. Dampaknya, pimpinan atau klien akan puas dengan hasil kerja Anda. Nah, reputasi sebagai programmer yang dapat dipercaya dan diandalkan akan tersemat dalam diri Anda dengan sendirinya.

Jika dianalogikan, programmer tak ubahnya seorang dokter. Jika salah mendiagnosa penyakit, maka akan salah dalam menentukan obat sebagai penyembuhnya. Demikian pula programmer, apabila salah dalam mengelola waktu, maka akan salah dalam menentukan langkah berinvestasi. Tak perlu mempelajari versi baru ataupun paket fitur juga tool baru yang tidak menunjang bidang kerja Anda, karena tidak akan berguna bagi peningkatan karir Anda, dan waktu yang dilokasikan untuk hal tersebut jelas terbuang secara percuma.

Sadari bahwa tubuh Anda bukanlah mesin. Bahkan mesin pun jika dipaksa terus beroperasi akan cepat aus dan rusak, apalagi tubuh Anda. Memang benar bahwa untuk menjadi produktif, programmer haruslah menghabiskan waktunya untuk bekerja. Oleh sebab itu, tak sedikit developer yang bekerja tanpa mengenal waktu, memforsir tenaga dan pikirannya dengan harapan bisa lebih produktif. Padahal tanpa mereka sadari, langkah tersebut justru sama sekali tidak mencapai produktivitas yang diharapkan.

Tubuh yang terforsir untuk bekerja secara terus-menerus akan berpengaruh pada menurunnya kemampuan kognitif. Jika hal ini dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan timbul tekanan pada fisik dan psikologis. Akibatnya muncul lah stres, kelelahan, dan suasana hati yang kurang baik alias bad mood. Deretan penyakit psikologis ini tak jarang menimbulkan penyakit fisik, sebut saja sakit kepala, maag, migrain, vertigo, dan lainnya. Kondisi ini tentu saja jauh dari produktif. Parahnya, gangguan ini bisa mempengaruhi kemampuan Anda dalam mengatasi masalah dan mengambil keputusan. Harus disadari bahwa tubuh dan pikiran Anda butuh istirahat. Dengan beristirahat, tubuh dan pikiran akan mengalami proses relaksasi dan penyegaran kembali. Oleh sebab itu, tentukan waktu khusus untuk beristirahat dalam skedul kerja Anda. Jika waktu istirahat terjadwal dengan baik, hal itu tentu tak akan mengganggu skedul kerja Anda secara keseluruhan.