Malam itu kami memainkan sebuah appreciation game. Sebelum makan malam dimulai, masing-masing dari kami harus menulis nama peserta bootcamp yang paling kami kagumi disertai dengan alasan. Beberapa nama kemudian muncul. Abdul Latif, Rizal Sidik, Sasongko Adi, Cauda Ganesh, masing-masing ternyata memiliki empat pengagum rahasia. Sebagian besar alasannya karena ketekunan yang mereka tunjukkan. Sebagai game master, malam itu saya tak sempat menulis satupun nama. Dan terus terang, saat itu saya sempat mengacaukan kertas suara sehingga ada satu nama yang terselip: Hana Alaydrus. Bersama dengan pos ini, maka Hana praktis seharusnya memiliki empat pengagum rahasia dengan alasan yang hampir sama: kami menilainya sebagai wanita yang tangguh.

Hanya tinggal dua minggu sampai hari kelulusan Batch #3. Saya bukan penggemar teori evolusi Charles Darwin, tapi tidak ada teori yang mampu menjelaskan fenomena di bootcamp selain seleksi alam. Mereka yang lemah akan menyerah, tapi mereka yang kuat justru akan tampil semakin kuat. Hana adalah kasus yang spesial. Saya masih ingat bagaimana matanya berair ketika dua bulan lalu pertama kalinya ia harus berhadapan dengan jam kerja ekstrim, 66+ hours per week. Tak ada perlakuan khusus. Tapi dari awalan yang kurang menjanjikan itulah, kini Hana justru tampil sebagai programmer yang penuh dengan rasa percaya diri.

Isu kesenjangan gender saat ini sedang panas di dunia. Seorang karyawan Google menerbitkan sebuah manifesto yang berjudul "Google's Ideological Echo Chamber" tepat di tengah perang Google melawan investigasi departemen ketenagakerjaan Amerika Serikat atas tudingan bahwa Google menggaji wanita lebih sedikit untuk posisi yang comparable. Justru hal yang menarik dari 10 lembar manifesto ini adalah bagaimana penulisnya menilai bahwa wanita tidak dapat terwakili dengan baik di dunia tech bukan karena adanya bias dan diskriminasi di tempat kerja yang konon terjadi di Silicon Valley, tetapi karena adanya perbedaan fisik antara pria dan wanita. Hari ini, pria bigot itu dipecat. Tapi kami akan sangat senang mengundang Mr. X ke bootcamp kami, hanya untuk menyaksikan bagaimana tanpa perlakuan khusus, wanita juga bisa jadi programmer yang tahan banting.

Hana, dan teman-temannya di Batch #3, telah terlatih untuk memiliki etos kerja Silicon Valley ala Facebook dimana engineer memiliki passion yang besar terhadap proyek yang mereka kerjakan. Seperti digambarkan dalam buku Chaos Monkey, kantor Facebook dengan pintu masuk yang terpampang tulisan HACK ini memiliki engineer yang sangat berdedikasi – hampir seperti sebuah agama baru. Engineer Facebook rata-rata bisa menghabiskan waktu 14 jam di kantor, dan dalam beberapa kasus — seperti ketika Google mengibarkan bendera perang dengan meluncurkan Google Plus, Zuckerberg akan memerintahkan Lockdown dimana seluruh engineer Facebook menjawab tantangan itu dengan lembur berhari-hari membedah Google Plus hanya demi memastikan kalau Facebook lebih baik darinya. Begitupun selama bootcamp, saya sering menemukan para peserta bootcamp akan lembur melampaui 12 jam nonstop di depan layar laptop yang bertaburan baris kode.

Kita terbiasa untuk melihat wanita sebagai makhluk yang lemah, padahal mereka bukanlah makhluk yang perlu dicemaskan. Carl Jung, psikolog favorit saya menjelaskan fenomena ini dengan baik. Menurutnya, sisi animus dari kita para pria, akan selalu membuat kita mencemaskan segala sesuatu yang bukan kita dan berprasangka. "Women are much tougher than men underneath. To call women the weaker one is sheer nonsense," katanya. Dan sejauh ini, sample menunjukkan tren yang positif. Hana bukanlah wanita pertama di lingkungan bootcamp kami. Sebelum ia, ada Devina Christabela — lulusan Batch 1 yang kini sedang meniti karir pasca bootcamp di Malang, 850 KM dari Bandung, kota asalnya. Atau jika kita tarik lebih jauh lagi, ada Sheryl Sandberg — ikon women in tech yang kepemimpinannya di Facebook digambarkan dengan cukup mengagumkan. Carl Jung berkata, "There are countless women who succeed in public life without losing their femininity. On the contrary, they succeeded precisely because of it".

Kini tinggal menghitung detik hingga kelulusan Batch #3 Refactory. Ketahanan Hana, dan peserta lain di Batch #3 sampai hari final bootcamp mereka nanti adalah hal yang layak untuk diapresiasi. Sebelum tibanya hari kelulusan, izinkan saya menyampaikan apresiasi dalam rangkaian appreciation game yang pernah sedikit saya kacaukan malam itu. Bagi saya, mengabadikan momen bootcamp Hana Alaydrus dari balik kamera saya adalah pengalaman yang sangat berkesan. Sebuah memoar saya untuk berhenti meremehkan kaum wanita.

Kamu juga suka tantangan? Mulailah dari sini: https://enroll.refactory.id/