Rangga Aditya Prawira adalah salah satu lulusan Batch #1 Refactory. Bagi kami, batch pertama adalah periode yang monumental. Mereka memungkinkan kami menguji premis-premis yang kami bawa untuk bootcamp ini. Bahwa siapapun, dengan tekad yang kuat dan lingkungan yang mendukung, memiliki kesempatan yang besar untuk berkarir sebagai programmer di level engineering yang lebih tinggi. Maka Glend Maatita (CHRO Refactory) secara khusus merekomendasikan nama Rangga Aditya sebagai subyek wawancara pertama saya. Alasannya masih seputar pembuktian premis kami. Karena kabarnya, Rangga kini ditunjuk sebagai team leader di Triplogic, sebuah apps yang berharap untuk memecahkan problematika bagasi yang sering dihadapi oleh para traveler. Glend bahkan meyakinkan saya dengan menyebut secara hiperbola bahwa Rangga adalah salah satu success story yang dimiliki Refactory. Awalnya saya skeptis. Saya menganggap pernyataan Glend sekedar bias saja. Maklum, selama bootcamp, Rangga adalah anak didik yang langsung ada di bawah mentoring Glend. Tapi ternyata anggapan awal saya keliru. Glend jujur. Rangga Aditya adalah sosok yang sangat inspiratif. Bukan sekedar "success", melainkan "triumphant story" yang saya rasa bisa berikatan secara emosional dengan siapapun. Tentang tekad seorang pemuda yang berhasil mengantarkannya keluar dari kesulitan ekonomi. Saya telah merangkumnya ke dalam sebuah video yang melalui serangkaian proses editing. Tapi, sekedar demi menyediakan penilaian yang lebih obyektif, saya sertakan pula transkrip wawancara sore itu tanpa tedeng aling-aling.

Halo Rangga, mari kita mulai dengan cerita tentang aktivitas kamu sebelum masuk Refactory. Siapakah kamu, ceritakan dengan menarik. Berikan pemirsa sebuah story! (tertawa, ia menganggap saya sedang bercanda) "Apa yang menarik dari saya? Hmm ... biar saya pikirkan. Susah. Bagaimana kalau saya cerita saja soal pengalaman saya sebelum masuk Refactory?" (saya cuma mengangguk) "Pada waktu itu, saya berkuliah selama 2 semester di sebuah universitas di Bandung. Saat itu saya tengah menjalani Ujian Akhir Semester."

Tunggu dulu. Lalu bagaimana dengan Ujian Akhir Semester-mu? "Dengan intensitas selama bootcamp, maka mau tidak mau harus saya tinggalkan. Waktu itu pun akhirnya saya putuskan ambil cuti di kampus, yang ternyata berlanjut sampai sekarang." (kemudian tertawa)

Tidakkah sayang? "Tidak. Sebelum berkuliah di sana, saya juga sempat kuliah selama beberapa semester di universitas lain. Tapi pada saat itu saya sempat ambil cuti karena sakit. Ketika kembali kuliah, saya dihadapkan dengan tunggakan biaya yang tidak sedikit. Pada waktu itu keluarga saya sedang ada masalah ekonomi. Saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Kemudian ketika berkuliah lagi di kampus berikutnya, saya menemukan Refactory. Pada saat itu saya berpikir, saya tidak mau membebani orang tua. Mungkin inilah jalan saya."

Tunggu dulu. Kan di bootcamp ini juga ada skema pembayarannya? "Nah itu dia. Awalnya saya tidak tahu kalau bootcamp ini berbayar. Pada waktu itu, setelah diumumkan berhasil masuk Refactory, dan tahu kalau ada biaya yang harus dibayar, yang mana tidak sedikit. Maka saya berpikir untuk mundur. Tapi kemudian ada telfon dari bapak Siswanto (CFO Refactory). Beliau menjelaskan tentang skema pembayaran di Refactory. Pada waktu itu ada komunikasi yang sangat intens antara beliau dengan orang tua saya. Garis bawahnya adalah Refactory menciptakan kemampuan bayar. Dan memang terbukti. Saya bersyukur sekali karena Refactory memang menciptakan kemampuan bayar bagi saya saat ini (tuition Rangga di Refactory dibayar setelah mendapat pekerjaan)."

Sekarang bagaimana dengan kuliahmu? "Saya belum memutuskan. Beberapa teman saya yang sudah lulus kuliah nyatanya juga masih kesulitan mencari pekerjaan. Jadi saya sangat bersyukur bisa sampai di posisi ini." (tersenyum)

Coba ceritakan tentang situasi kerjamu. "Sudah hampir 3 bulan sejak saya lulus bootcamp Refactory, saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan di Bandung, bernama Triplogic. Aplikasi ini adalah aplikasi yang berusaha memecahkan masalah para wisatawan. Masalah yang dihadapi ketika traveling adalah, seringkali kita ingin membawa banyak barang yang justru melebihi bagasi yang diijinkan oleh alat transportasi. Nah, aplikasi ini mencoba untuk mengatasi masalah itu."

Ceritakan tentang pencapaianmu. (Pada saat itu saya berharap ia akan mulai menyombongkan perannya sebagai team lead) "Saya selalu beranggapan bahwa programmer adalah individu yang terus menawarkan value dan solusi-solusi kepada problem yang ada di masyarakat. Karena mereka bisa. Maka ketika bergabung dengan tim ini, saya merasa sangat bangga dan bersyukur sekali."

Pencapaian terbesarmu setelah 3 bulan lulus dari Refactory? (Saya masih berharap kalau ia akan mulai menyombongkan perannya sebagai team lead) "Pemrograman mengubah hidup saya. Melalui pemrograman, saya sangat bersyukur bahwa hasil keringat saya, bisa digunakan untuk membiayai kuliah adik saya."

Di akhir wawancara, saya sempat tertegun selama beberapa detik. Daripada memilih untuk menyombongkan peran, Rangga lebih memilih menceritakan nilai. Ada 4 kali kata 'bersyukur' yang saya dengar dari Rangga. Sekarang, saya mengerti kenapa Glend secara khusus merasa bangga dengan sosok Rangga. Rangga dan lulusan lain dari batch 1 adalah benchmark terbaik yang bisa kami harapkan. Dengan standar gaji minimal 10 juta, 77% lulusan batch #1 mampu terserap di dunia kerja. Dan kami tidak akan berhenti. Begitu pula dengan perjalanan Rangga di dunia kerja profesional. Semoga sukses Rangga!

Nah pembaca, setelah Rangga, kini mungkin giliranmu. Mulai perjalananmu sekarang juga: https://enroll.refactory.id/