Growth & Culture

Gelar Sarjana Tak Penting Bagi Elon Musk

By

|

By

Saat sebagian orang Indonesia sibuk menyombongkan gelar sarjana, pendiri dan orang terkaya di Planet Bumi, Elon Musk malah menganggap kampus dan gelar pendidikan nyaris tak penting.

Pernyataan ini punya konteks tentu saja. Sebagai inovator dan juga pebisnis, Elon Musk menganggap bahwa fungsi universitas adalah mendisiplinkan diri dan bermain bersama teman-teman sebaya. 

“Menurutku kampus pada dasarnya untuk bersenang-senang dan membuktikan dirimu mampu mengerjakan tugas yang diberikan, tetapi (kampus) bukan untuk belajar,” katanya seperti yang dikutip dari The Guardian.

Sebagai orang yang sukses membangun Tesla dan memiliki obsesi untuk membangun peradaban di Mars, Elon Musk berharap publik bisa menata ulang ekspetkasi mereka tentang gelar sarjana.

“Apakah Shakespeare pergi ke kampus?” tanya Elon. “Aku rasa tidak,” lanjutnya.

Sikap Elon Musk ini merupakan respon terhadap syarat gelar sarjana yang diminta oleh SpaceX, perusahaan miliknya, sebagai syarat bekerja.

Elon juga punya sikap jelas tentang beasiswa dan pinjaman kuliah yang menjadi tradisi di Amerika. Seseorang bisa punya hutang miliaran rupiah hanya untuk kuliah. Ia berpendapat bahwa universitas dan industri yang ada harus bersinergi agar pendidikan bisa lebih terjangkau. 

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sebelum pengumuman adanya pandemi di Indonesia, BPS menyebut per Februari 2020 Indonesia memiliki 6.816.840 pengangguran terbuka. Rincian jumlahnya bervariasi berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. 

Jumlah pengangguran terbuka paling tinggi adalah lulusan SMA atau sederajat, yakni 1.680.794 orang. Sementara untuk lulusan perguruan tinggi mencapai 269.976 orang. Lantas angka pengangguran itu bertambah karena pandemi. 

Berdasarkan data di Kementerian Ketenagakerjaan, total pekerja kena PHK maupun dirumahkan sebanyak 3,5 juta orang. Sehingga saat ini jumlah pengangguran terbuka hingga mencapai 10,3 juta. Lalu apa solusi untuk mengatasi ini?

Pendidikan di luar sekolah adalah satu cara untuk mendapat keterampilan baru yang dibutuhkan industri. Kenapa belajar keterampilan baru? Di seluruh dunia 195 juta orang mengalami nasib yang sama. Pekerjaan yang mengharuskan interaksi manusia dibatasi dan tenaga kerja yang dulunya berdaya jadi menganggur.

Ini mengapa Elon Musk berpendapat bahwa syarat utama seorang karyawan untuk bisa bekerja di perusahaannya adalah kemampuan yang luar biasa. “Ini sangat absur, aku tak menganggap bisa kuliah sebagai bukti kemampuan yang luar biasa,” katanya.

Ia berharap ke depan Tesla tak lagi mewajibkan gelar kesarjanaan sebagai syarat utama pekerjaan. Malah Elon menganjurkan karyawannya untuk drop out. Ia mencontohkan orang-orang dengan bakat jenius seperti Bill Gates, Steve Jobs dan Larry Ellison sebagai buktinya. 

Tapi jangan terkecoh, meski menganjurkan seseorang untuk drop out, Elon Musk sendiri memiliki dua gelar dari Queen’s University in Kingston, Ontario, danUniversity of Pennsylvania. Menariknya Elon Musk mengundurkan diri dari program PhD Stanford setelah belajar selama dua hari.

Lalu bagaimana dengan anda? Jika anda terdampak pandemi, ingin belajar keterampilan baru, dan berharap bisa segera bekerja. 

Program Refactory Strategic Partnership bisa jadi solusi. 

Atau jika ingin belajar dasar-dasar pemrograman, langsung saja ke sini!

Hubungkan dengan kami

Ikuti refactory

Case Studies

Tag

elon musk, gelar sarjana, online course, pendidikan, refactory solusi pandemi

×