Bahasa Universal

Thu, Jun 15, 2017 12:30 PM
Sosio by Admin

Ian Donelly, fisikawan Los Alamos National Laboratory itu menyitir kalimat apik. Kata per kata dikenakan sebagai modus perkenalan. Kepada Dr.Louise dia bilang, "Bahasa adalah pondasi peradaban. Ia merekatkan semua orang. Ia senjata pertama yang dipakai dalam konflik".

Dr.Louise memang seorang pakar linguistik. Rekan dadakan bagi Donelly. Sosok yang direkrut negara demi mengatasi krisis akibat tibanya mahluk luar angkasa. Perempuan ini sigap dan gigih dalam urusan bertukar bahasa. Termaksud menangkap maksud-maksud alien. Dia protagonis dari keseluruhan film.

Arrival (2016), tajuk film tersebut. Science fiction yang bertutur perihal dua mahluk berbeda. Lewat kelokan drama panjang, akhirnya alien dan manusia bisa ditautkan via bahasa. Disini tampak sekali Arrival berusaha keras meletakkan sebuah premis. Untuk kemudian dengan percaya diri mengatakan, komunikasi akan menghalau perbedaan.

Komunikasi dipercaya serupa jembatan emas untuk menghubungkan siapa saja. Lebih dari seratus ribu tahun silam, manusia kuno konon memulainya dengan "ku" (siapa) dan "ma" (apa). Kini komunikasi menjadi isu substansial di semua rumpun profesi. Dalam kasus lain, bertemunya dua subjek berlatar belakang diametral niscaya menuntut hadirnya komunikasi yang jitu.

Tidak harus menyerupai kerumitan Arrival, dimana alien dan manusia harus membarter kata. Dalam contoh yang lebih terjangkau, kita bisa menyaksikan ketidakmudahan bagi pelukis impresionis menjabarkan detail karyanya kepada kumpulan pandai besi. Atau pakar nuklir menjelaskan prinsip-prinsip fisika nuklir ke pegulat. Tanpa eksepsi di jagad pemrograman, dengan jalan apa programmer menerangkan design pattern ke sosok petani awam?

Jika ingin membuat kumpulan orang mengikuti mu, mula-mula mereka harus terpastikan menerima pesan mu. Semua harus memulainya di titik itu. Dalam situasi riel, kerap muncul pertanyaan, bagaimana mempresentasikan informasi teknikal kepada audiens non teknikal?

Beberapa tulisan mencoba mengelaborasi ini dengan menawarkan solusi praktikal. Pertama, Anda harus mengetahui dengan baik audiens yang dihadapi. Anda boleh memastikannya, semisal dalam ungkapan, "saya tak berniat menghina kecerdasan mu, jika hal ini sudah kamu ketahui, beri tau saya. Saya hanya ingin memastikan."

Kedua, hindari penggunaan akronim, jargon dan "buzzwords". Audiens sesungguhnya tidak terlalu peduli seberapa pandaikah atau seberapa banyak hal yang kita pahami. Komunikasi ialah jalan dua arah. Audiens lebih mungkin diajak berpikir keras jika apa yang ditangkap telinganya dirasa menarik.

Ketiga, dalam konteks users, bicaralah pada fungsi yang bisa mereka peroleh. Dalam frasa sederhana, ia dapat diterjemahkan sebagai, "berbicaralah apa yang bisa dilakukan teknologi kepada pengguna, bukan mendiskripsikan secara berkepanjangan proses yang membentuk sistem bisa berjalan."

Keempat, terjemahkan dan didiklah audiens. Langkah ini bisa dimulai dengan menyusun daftar termina yang paling intens digunakan. Verifikasilah termina yang rajin membuat tatapan mata audiens terlihat kosong. Buatlah terjemahan yang terjangkau. Mulailah mentransfer pengetahuan.

Tentu tips dan trik diatas bukan serupa dogma anyar. Bukan barang jadi yang manjur dalam segala waktu dan situasi. Selalu ada penggalian tak mengenal akhir demi menemukan metode yang mendekati sempurna. Dalam laju industri digital, "engineers" wajib membekali diri dengan hasrat, fleksibilitas dan kepercayaan diri berkomunikasi demi menggapai tujuan final.

Akhirnya, programmer boleh mulai membayangkan dirinya serupa Dr.Louise. Orang yang kompeten berkomunikasi. Walau tentu saja "non-tech people" bukanlah ras alien. Sehingga diujung cerita nanti, -sebagaimana Dr. Louise-, programmer berhasil menemukan "bahasa universal". Tool yang menembus batas pehamanan. Dan komputer sains menjadi lingua franca universal.