Merujuk Course Report bulan Juli 2017, lulusan bootcamp di Amerika telah mengisi lebih dari seperlima ketersediaan tenaga pemrograman negeri Paman Sam. Angka tersebut terbilang mencengangkan, tak bisa dipandang sepele, mengingat industri bootcamp sendiri baru berusia 4-5 tahun. Sebuah industri yang sesungguhnya masih sangat belia.

Dilaporkan, lulusan coding bootcamp di Amerika sekarang sudah menembus angka 22.949 orang. Bilangan ini setara 22% dari volume tenaga komputer sains pada tahun berjalan. Bila merujuk tahun 2013, tahun ketika industri bootcamp dimulai, kenaikan lulusan telah mencapai 10,5 kali lipat. Tren pelipatgandaan cepat sedang bergulir di sini.

Adalah Matematika sederhana saja yang diperlukan untuk memahami dari mana 22.949 lulusan tersebut bisa disediakan. Ini hanya sejenis perkalian dasar. Sampai dengan Juni 2017 coding bootcamp sudah berdiri di 74 kota dan 40 negara bagian. Jumlah bootcamp berbanding lurus dengan besaran lulusan.

California, negara bagian dimana Silicon Valley berada, merupakan wilayah dengan angka perluasan coding bootcamp mencapai titik tertinggi, 36. Dari fakta tersebut, sukar sekali untuk tidak menarik kesimpulan, kawasan dimana permintaan berkembang pesat, di sana upaya penyediaan akan datang menyesuaikan. Hukum pasar nan mudah.

Adapun New York City (NYC) tercatat sebagai kota dengan perkembangan bootcamp tersubur. Tersedia tidak kurang 22 buah bootcamp di “kota yang tak pernah tidur” itu. Di urutan berikutnya San Francicsco (SF), sebanyak 14. Di Amerika terdapat 10 kota utama dimana ekosistem coding bootcamp berkembang cukup masif. Selain NYC dan SF, ada juga Seattle, Los Angeles, Washington hingga Austin. Pendeknya, banyak kota, banyak bootcamp, banyak lulusan, dan ujung-ujungnya banyak programmer. Tentu, semua itu tak segampang melafalkannya.

Di Indonesia sendiri berdasar Peta Okupasi Nasional Pada Area Fungsi Teknologi Informasi dan Komunikasi, seperti dinyatakan MenKomInfo Juli lalu, kebutuhan SDM Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) belum terpenuhi hampir di semua lini. Ini jelas bukan kabar baik, dan sayangnya juga bukan kabar baru. Secara lugas Rudiantara menyebut, “Kita ini kekurangan pasokan SDM, engineer….”

Dari Peta Okupasi Nasional disebut ada 16 kategori profesi terkait TIK. Mulai dari manajemen data hingga konsultan dan layanan jasa SDM TI. Jauh hari sebelumnya, Bank Dunia sejak tahun 2010 telah menjelaskan tren pasar tenaga kerja terkait TIK. Namun Indonesia tampak keteteran menjawabnya, sebagaimana dikonfrmasi oleh Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) belum lama di media nasional.

“Sampai sekarang Indonesia masih mengalami kendala untuk mengikuti tren itu.”

Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga pemrograman sudah hampir terdengar bak lagu lama yang diulang-ulang. Dinyanyikan oleh biduwan yang itu-itu saja. Panggung jelas butuh penyanyi baru dan cara berdendang yang anyar. Sedari awal Refactory sendiri mencoba ikut menjawab masalah pelik ini. Menjawabnya dalam tindakan. Ikut mengisi panggung.

Bandung ialah kota dimana upaya tersebut mula-mula hendak diwujudkan. Sejak periode Januari kami telah melewati beberapa hal, ada banyak pencapaian, sebagaimana tak secuil pula kekurangan. Namun satu kota saja pasti tak cukup. Perkembangan tenaga programmer yang masif di Amerika telah menjelaskan itu secara gamblang. Harus lebih, lebih, dan lebih lagi.

Darurat tenaga programmer mustahil diakhiri hanya dengan satu titik tunggal di Pulau Jawa, sebutlah Bandung. Jika Anda familiar dengan grafis vektor mungkin akan lekas menangkap maksudnya. Grafis vektor ialah gambar yang terbentuk dari rangkaian titik yang saling terhubung. Ia mengandung beragam unsur seperti arah, ukuran, sudut, ketebalan, warna, dan lainnya. Terang sekali, kita butuh banyak titik yang terkoneksi untuk membuat gambar perihal ketersediaan tenaga pemrograman. Jadi bila pada mulanya titik itu bernama Bandung, maka selanjutnya: Jogja! Ya, Refactory akan membuka coding bootcamp di Jogja.

“Kami terus bergerak maju, membuka pintu baru, dan melakukan hal-hal baru, karena kami penasaran dan rasa penasaran itu terus membawa kami ke jalur baru”, ujar Walt Disney suatu waktu. Adalah penting memiliki rasa penasaran demi terus berkembang dan menjawab persoalan. Kurang lebih serupa itu pula isi hati kami hari ini. Dan rasa-rasanya, ngoding sembari menikmati gudheg akan terlihat seperti kombinasi yang unik dan berguna. Oktober ini, mohon bersiap, Jogja Kami Datang!

Ayo bergabung dan belajar bersama Refactory melalui pranala berikut: https://refactory.id/information.