Mulanya pemuda ini disanjung sebegitu tinggi, dijuluki “Pelanjut Habibie”. Kabarnya dia menciptakan Satellite Launch Vehicle/SLV alias sarana peluncur satelit dengan topangan teknologi TARAV7s. Dia pun diyakini terlibat proyek rekayasa pesawat tempur generasi anyar, Eurofighter Typhoon Defence. Tak genap sampai disitu, pria kelahiran Madiun ini mengaku memegang lima hak paten terkait roket, satelit, teknologi mesin jet, desain aerodinamik pesawat luar angkasa, dan teknologi avionik. Ringkasnya, Dwi Hartanto tampak seperti sosok jenius baru yang pantas dibuat basah kuyup oleh hujan pujian.

Seiring waktu berjalan, segala kebohongan Dwi Hartanto tiba-tiba terkuak. Dia pun ditelanjangi, dibugili helai demi helai pengakuan sepihaknya. Dwi Hartanto tak kuasa berkelit, terbukti berdusta. Mahasiswa doktoral di Universiteit Delft ini kemudian meminta maaf. Sementara namanya sudah terlanjur tercebur dalam kubangan cemoohan. Pemberitaan di beragam media mengulitinya tiap hari. Kini dia berjuluk "Ilmuwan Palsu". Sejarah ilmu pengetahuan sendiri sesungguhnya memang tidak imun dari kebohongan. Di dalamnya berisi lembar kusam ketidak-shahihan. Dwi Hartanto hanya satu dari sekian orang yang pernah melakukannya.

Di awal abad 20, dokter bernama Albert Abrams (1863-1924) pernah mengaku menemukan rahasia untuk mendiagnosis dan menyembuhkan hampir semua penyakit. Dia menyatakan kunci kesemuanya ada pada getaran yang datang dari setiap sel. Getaran ini disebut dengan “Electronic Reactions of Abrams” (ERA). Dari titik pijak tersebut, pria San Francisco kemudian memperkenalkan sejumlah mesin untuk kepentingan medis. Lahirlah piranti medis dari generasi Dynomizer, Oscilloclast hingga Radioclast. Sampai tahun 1921, diklaim 3.500 praktisi telah menggunakan teknologi ERA.

Pada tahun 1923, seorang pria tua pengidap kanker perut pergi ke praktisi ERA. Seusai perawatan dia dinyatakan sembuh total. Sebulan berselang, pria malang itu meninggal mendadak. Kegaduhan publik pun terjadi. Melalui serangkaian penyelidikan awal, -diinisiasi American Medical Association (AMA) dan jurnal sains “Scientific American”-, diketahui teknologi ERA tidak valid. Penyelidikan lebih jauh kemudian melibatkan Badan Pangan dan Obat-Obatan Amerika (FDA). Pada prosesnya, Abrams sendiri tak pernah sempat hadir di pengadilan. Dia keburu meninggal. Temuannya kemudian terklasifikasi sebagai "sengaja menipu atau setidaknya salah."

Tiga tahun silam, di India sempat pula tersaji pergunjingan massal. Sosok yang dipergunjingkan ialah Arun P. Vijayakumar. Pria ini berumur 27 tahun, lebih muda dibanding Dwi Hartanto. Arun mengaku diterima bekerja di NASA. Artinya dia menjadi warga negara India pertama yang bisa menembus Badan Antariksa Amerika. Di waktu bersamaan pria muda ini menyatakan diri meraih gelar doktoral-nya di kampus ternama, Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di MIT Arun berkenalan dan memiliki hubungan dekat dengan ilmuwan kondang Barbara Lesko. Arun pun menyatakan telah diundang makan malam oleh Perdana Menteri Narendra Modi.

Jutaan warga India seketika saja dibuat heboh. Kisah Arun ini melesat di media sosial, menjadi viral. Terlebih lagi Arun mengaku jika harus bergabung ke NASA dia keberatan meninggalkan India. Atas sikapnya tersebut, julukan baru seketika menyemat gagah di pundaknya, “Ilmuwan NASA Yang Patriotik”. Semua parodi kebohongan ini berlangsung tidak singkat. Dia berhasil menipu publik selama dua tahun. Sampai "polisi netizen", -sebuah inisiatif online oleh polisi Kerala-, mengunjungi MIT, melakukan penyelidikan dan membantah seluruh klaim yang dibuat Arun. Pemuda asal Kerala ini akhirnya mengakui segalanya. Arun sesungguhnya bekerja sebagai dosen di Royal University of Bhutan mulai Juli 2013 hingga Juli 2014. Dia juga belum pernah ke MIT.

Kasus semacam ini mungkin bisa ditarik hingga ke jaman lampau. Semisal Prosper-Rene Blondlot (1849-1930) dengan “N-Rays”-nya, atau John Keely (1837-1898) bersama mesin gerak kekal buatannya, sebuah instrumen yang dalam imajinasinya memungkinkan manusia tak membutuhkan bahan bakar fosil atau panel surya. Di tanah air juga terpapar contoh serupa. Belum lekang di ingatan publik tentang Nutrisi Saputra yang sempat kondang terutama di wilayah pedesaan. Nutrisi ini sejenis pupuk super yang diklaim mampu menggenjot panen petani. Fakta di lapangan justru berkebalikan, jauh panggang daripada api. Nutrisi Saputra pelan-pelan hilang ditelan waktu.

Kasus berikutnya adalah “Blue Energy” (2008). Temuan Djoko Suprapto yang berhasil meraih peliputan besar. Kabar perihal kecemerlangan “Blue Energy” bahkan sampai ke telinga Presiden. Di tangan ‘Mas Djoko’, konon air bisa digubah menjadi bahan bakar minyak. Ujung cerita berkata lain, bukannya air yang berhasil dirubah menjadi minyak, malah ‘Mas Djoko' berubah hunian dari rumah ke penjara. Di waktu yang sama muncul pula teknologi padi Super Toy. Penemunya Tauyung Supriyadi. Warga Desa Grabag Purworejo yang menanam padi "unggulan" tersebut justru terhuyung, mereka gagal panen. Tersudut dengan keadaan, Tauyung Supriyadi sempat memilih Tapa Mbisu (aksi tutup mulut).

Melihat fenomena klaim tak akurat atau tindakan sengaja menipu, sebagian ahli menyatakan bahwa ilmuwan membuat klaim tidak presisi adalah sebuah tren historis. Ada beragam motif berkelindan di sana, mulai dari ekonomi hingga pengakuan eksistensi diri. Orang lantas bisa melihat rentetan kebohongan. Dari sana pula dengan terang kita dapat menyaksikan Dwi Hartanto tidak sebatangkara, dia punya cukup teman, baik teman di masa lalu, sekarang dan akan datang. Mengenai ini dramawan Irlandia pernah berujar, “Waspadalah terhadap pengetahuan palsu: ia lebih berbahaya daripada ketidaktahuan.”