Ngobrol soal Blockchain, maka akan sangat seru jika kita mulai dari Bitcoin. Karena, Bitcoin sedang panas di beberapa hari belakangan ini. Bitcoin, tampaknya masih jadi momok bagi pemangku kebijakan di Indonesia. Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia bahkan mengancam akan mengambil sikap jika menemukan pihak yang menggunakan mata uang kripto ini sebagai metode pembayaran. Dikutip dari Detik.com (19/10/2017), katanya, "Dengan penegasan ini bukan satu alat pembayaran, kalau dipakai tentu akan ditindak saya tidak menginginkan ada pelanggaran di Indonesia ketika BI sudah menegaskan bitcoin bukan alat pembayaran yang sah".

Nah, masih ingat dengan foto ini?

wow-ada-warung-di-malaysia-pakai-bitcoin

Foto ini sudah lama bersirkulasi di Internet. Maka tak perlu waktu lama untuk menemukan informasi lain yang mengarahkan bahwa warung yang dinamai Jijahs NK Stall (laman Facebook: Jijahs-NK-Stall-1438208249540311) ini berada di negara tetangga kita Malaysia, tepatnya di wilayah Kelantan. Mengutip dari frontroll.com, pemilik warung ini mengaku sejak pertama kali diperkenalkan, hanya 8 unit transaksi Bitcoin dalam 2 bulan terakhir. Tidak banyak, tapi ada. Ia mempercayai kalau pembayaran digital ini adalah cara masa depan kita dalam bertransaksi. Sekalipun pelanggan hanya cukup membayar 0.00025 dalam bentuk Bitcoin untuk sebuah paket nasi kerabu, dengan fluktuasi nilai yang melambung, si pemilik warung Jijahs NK Stall bisa melihat investasi yang berharga dari se'keping' Bitcoin. Sebagai informasi, empat tahun yang lalu harga Bitcoin masih senilai 73 ribu, sedangkan sekarang 84 juta rupiah.

Jadi, barang macam apakah Bitcoin itu?

Pertama perlu saya tekankan kalau Bitcoin hanya satu dari beberapa mata uang kripto yang sudah memiliki basis pengguna yang besar. Di samping itu ada pula Ethereum, Litecoin, atau variasinya yang namanya mengadopsi meme internet, Dogecoin. Atau Tunisia yang telah maju sepuluh langkah dari negara lain menginisiasi E-DINAR, yang dari situsnya (edinarcoin.com), menyebut kalau sejak 4 bulan setelah peluncuran mata uang kripto ini, jumlah penggunanya mencapai 500 ribu akun aktif dan hingga di akhir 2016, sekitar 15 juta dolar diinvestasikan pada E-Dinar Coin, dan investor utama mereka salah satunya berasal dari mana coba tebak? Indonesia.

Kembali ke pembahasan awal, benda macam apakah Bitcoin itu? Bitcoin atau mata uang kripto lainnya adalah mata uang yang hanya ada di dunia digital. Ia tidak memiliki bentuk fisik baik itu berupa koin emas maupun uang kertas. Akan tetapi hanya dengan memilikinya saja, akan menanamkan sebuah gagasan baru tentang kepemilikan. Bayangkan saja, Anda memilikinya tapi tidak memegangnya di tangan atau menyimpannya di rekening bank. Tapi Anda memiliki kemampuan untuk memindahkan kepemilikan itu pada orang lain dengan cara membuat catatan di jaringan mata uang kripto itu. Setiap pembayaran dilakukan sepenuhnya dengan data.

Kemudian soal sejarah dan cara kerja Bitcoin, Oscar Darmawan, founder Bitcoin Indonesia telah menjelaskannya secara komprehensif dalam dokumentasi yang saya susun selama Road to Devsummit 2017. Pelajari disini.

Lalu, apa kaitan antara Bitcoin dan Blockchain?

Bitcoin adalah contoh yang paling populer untuk menyebut mata uang kripto yang disusun menggunakan sistem rantai blok atau Blockchain. Hal ini akan sangat mudah dimengerti jika kita membayangkan Blockchain sebagai sebuah buku besar pencatatan keuangan (ledger) yang biasanya dibuat oleh akuntan, atau dalam ranah mikro, ibu yang mengatur keuangan rumah tangga. Akan tetapi ledger yang dimaksud adalah buku besar pencatatan yang terbuka dan bersifat publik dimana setiap transaksi yang terjadi akan dicatat dan dikonfirmasi secara anonim. Buku ini merekam setiap kejadian yang dicatatkan oleh berbagai pihak penggunanya. Dan sebagaimana sebuah ledger tak boleh di-stipo, maka sekali informasi dicatatkan dalam Blockchain, maka ia tidak bisa diubah, diutak-atik, dimodifikasi sehingga sepenuhnya menjaga akuntabilitas dan transparansi.

Jadi, kenapa ia disebut rantai (chain dari kata Blockchain)? Dimana rantainya berada? Inilah konsep intinya. Jadi begini, karena ledger itu bersifat terbuka, maka penting sekali agar khalayak umum memiliki akses pada blok. Untuk itu pula, Blockchain tidak centralized maupun decentralized. Blockchain tidak berada pada satu komputer besar milik satu orang. Akan tetapi ia bersifat distributed. Ia tersusun oleh titik-titik yang terdistribusi yang mana secara unik satu titik akan terus menerus saling menyalin isi yang terdapat pada titik sebelumnya sehingga membentuk jalinan seperti rantai.

Lagi-lagi, soal sejarah dan cara kerja Blockchain bisa Anda simak dalam video dokumentasi yang telah saya susun selama rangkaian Road to Devsummit 2017 dimana Bambang Purnomosidi, VP curriculum Refactory menjelaskan secara lengkap tentang konsep ini. Pelajari disini.

Bank Indonesia, kendati menolak Bitcoin, tampaknya tengah menggodok aturan terkait yang di dalamnya membahas Blockchain. Semoga saja selain soal regulasi, mereka juga menjajaki utilisasi Blockchain untuk mengembangkan sebuah metode pembayaran yang penuh transparansi berbasis Blockchain. Karena, masa depan Blockchain seharusnya tidak terbatas pada bisnis yang memasang tanda “Now Accepting Bitcoins” dan pemerintah yang meributkan soal ini. Tapi sinergi antara industri dan pemerintahan dalam menemukan cara baru dalam menerapkan konsep ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Manajemen identitas, kontrak internasional, dan semua transaksi bank yang rumit bisa diguncang secara besar-besaran dengan mengadopsi sistem ledger publik milik Blockchain. Atau mereka juga dapat dikombinasikan dengan Internet of Things untuk menciptakan dunia yang semakin terkoneksi dan terotomasi. Masa depan dimulai sekarang. Nah, Indonesia Developer Summit 2017 mengundang setiap stakeholder yang menyusun ekosistem teknologi di Indonesia untuk membincangkan tentang teknologi Blockchain di dunia Fintech Indonesia. Artinya Anda bisa jadi bagian dari bermulanya masa depan ini sekarang. Kunjungi web devsummit.io untuk informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran. Sampai bertemu di Devsummit 2017.