Digitalisasi di berbagai lini, mau tidak mau akan datang. Lebih cepat dari perkiraan. Saat perkembangan teknologi semakin cepat, akselerasi sumber daya manusia perlu bergerak dikecepatan yang sama. Fenomena ini ditangkap Refactory, sebagai salah satu bootcamp alias dapur penghasil programmer yang sejalan dengan pelaku industri khususnya di bidang IT.

Melebarkan sayap di Yogyakarta sejak Oktober 2017, Refactory akan meluluskan batch I pada 16 Februari 2018 mendatang. Dengan spesifikasi terkini dan terus update yang diberikan selama masa bootcamp, para calon lulusan Refactory batch I Jogja ini telah mendapat banyak tawaran kerja, sebagai software developer, programmer ataupun coder.

Adalah Fendi Jatmiko. Keluarga baru Refactory bacth I Jogja. Mengaku sangat senang dengan masuknya tawaran pekerjaan sebagai developer. Tak perlu jauh-jauh ke Jakarta atau kota-kota besar Industri lainnya, tawaran itu berasal dari kotanya sendiri.

“Senang, tidak perlu jauh-jauh seperti teman-teman lainnya yang pergi ke Jakarta atau kota-kota lain. Saya dapat di Jogja. Dan Jogja sedang sangat berkembang dan membutuhkan banyak programmer atau developer lain. Kesempatan ini sangat oke. Saya diterima di SIMCREDIT, sebagai developer,” kata Fendi.

Lulusan STMIK AKAKOM Yogyakarta jurusan Teknik Komputer tahun 2012 ini mengaku, bergabungnya ia dengan Refactory dikarenakan kurikulum pengajaran yang mumpuni dan terhubung langsung dengan kebutuhan industri IT di Indonesia, lebih spesifik di Jogja.

“Yang diberikan Refactory ini benar-benar yang dibutuhkan industri. Diajarkan GO-lang (GO Programming Language) yang sedang tren di Amerika Serikat sana,” ujarnya.

Lingkungan yang kondusif, mentor yang sabar dan selera humor yang keren membuat Fendi betah berlama-lama bahkan diluar jam bootcamp yang menuntut komitmen 12 jam perhari, lima hari dalam satu minggu.

Tak hanya itu, latihan melakukan arsitektur dibalik konstruksi sebuah software pun benar-benar berasal dari proyek rill. Para siswa dilibatkan langsung dalam sebuah proyek yang benar-benar teraplikasikan.

“Ini sesuai ekspektasi saya berada di Refactory. Dan tawaran gaji yang diberikan pun, jauh di atas rata-rata penghasilan di Jogja.”

Senada dengan Faris Afif. Teman satu angkatan Fendi di batch I Refactory Jogja. Bersama-sama akan memulai berkerja di SIMCREDIT pada 1 Februari 2018 mendatang, padahal mereka baru akan lulus 16 Februari 2018.

“Saya akan jadi software developer pakai GO-lang. Ini jadi spesialisasi saya dan saya senang dapat kerjanya di Jogja juga,” ungkap Faris.

Selain spesifikasi teknis yang didapatkan di Refactory, Faris melihat jika bootcamp yang berpusat di Bandung ini sangat cocok untuk membangun relasi dengan industri teknologi ataupun mereka yang mulai untuk melakukan perombakan dan digitalisasi teknologi.

Sebagai fresh graduate Oktober 2017 dari STMIK AKAKOM dan baru berusia 22 tahun, tawaran yang disodorkan kepadanya sangat lah menggiurkan. “Wah, ini sangat besar, dan ini kesempatan bagi saya memulai langkah yang mantap jadi pro-developer.”

Kehadiran Refactory di Yogyakarta diluar sebagai pengembangan bisnis bootcamp, diharapkan mampu untuk menaikkan 'kasta' bagi para programmer di Indonesia, sekaligus kelayakan finansial. Menyasar Bandung di 2017 dan melebarkan sayap ke Jogja, Refactory ingin menambal gap yang dimiliki antara sektor pendidikan formal yang terkadang tidak bisa memenuhi kebutuhan industri pada prakteknya, dan menjadi alasan menancapkan nama di kota-kota berbasis pendidikan.

“Kami ingin membuang gap itu, dengan memproduksi para developer, programmer handal yang benar-benar siap untuk industri teknologi. Kebutuhan akan semakin besar. Untuk bisa bersaing maka skill pun harus naik kelas. Refactory bisa jadi solusi itu,” kata CEO Refactory Taufan Aditya.