Tulisan Terbaru

Wawasan baru maupun tips

Saat Robot Mengambil Pekerjaan Manusia

Apakah manusia kelak akan digantikan oleh robot? Ketakutan semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru. Di satu sisi jumlah manusia yang semakin banyak membuat pekerjaan terbatas. Meski banyak, ada beberapa pekerjaan yang tak bisa dilakukan oleh manusia karena keterbatasan. Seperti melakukan ekskavasi tambang, pemasangan kabel bawah laut dalam, atau eksplorasi luar angkasa.

Robot menjadi salah satu alternatif yang bisa menggantikan peran manusia. Selama 10 tahun terakhir, upaya mengganti manusia dengan robot kerap dipopulerkan. Alasannya banyak, mulai dari robot dianggap tak kenal lelah sehingga bisa bekerja 24 jam, atau karena robot tidak bisa protes jika haknya dilanggar seperti manusia.

Stephen Hawking pernah menulis dengan sangat baik di Guardian tentang bagaimana perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah menghapus banyak pekerjaan manusia. "Saya khawatir AI dapat menggantikan manusia sama sekali. Jika orang merancang virus komputer, seseorang akan merancang AI yang meningkatkan dan mereplikasi dirinya sendiri. Ini akan menjadi bentuk kehidupan baru yang mengungguli manusia," katanya.

Agaknya kecemasan Hawking beralasan, setidaknya berdasarkan riset yang dilakukan oleh Katja Grace dan tim Future of Humanity Institute dari Universitas Oxford. Grace dan timnya menghubungi 1.634 akademisi dan perwakilan industri dalam bidang kecerdasan buatan untuk memperkirakan masa depan manusia.

Grace menyebut bahwa perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan telah membuat hidup manusia jadi lebih baik. Robot yang bisa membersihkan puing sisa nuklir, menyelamatkan manusia saat terjadi bencana, dan tugas-tugas berbahaya lainnya.

Dari 352 ahli kecerdasan buatan yang merespon undangan Oxford ada beberapa hal yang bisa kita pahami, yang terancam oleh teknologi dan robot bukan hanya pekerjaan-pekerjaan manufaktur yang dilakukan oleh buruh. Tetapi juga pekerjaan orang-orang kerah putih.

Mereka memperkirakan bahwa pada 2024, robot dan kecerdasan buatan akan mampu menerjemahkan bahasa secara sempurna, pada 2026 menulis tugas sekolah tingkat SMA, pada 2027 mengendarai truk. Sementara pada 2031 akan mengambil pekerjaan manusia dalam retail, menulis buku pada 2049, dan menjadi ahli bedah pada 2053.

Saat ini Korea Selatan memiliki “kepadatan robot” tertinggi di dunia, dengan 93 robot per 1.000 pekerja manusia di bidang manufaktur, menurut angka tahun 2020 dari Federasi Robotika Internasional. Sementara AS dan sebagian besar negara Eropa memiliki kepadatan robot antara 10 dan 30 per 1.000 pekerja.

Penggunaan robot meningkat secara eksponensial: Januari 2022, Korea Herald melaporkan bahwa diperkirakan 3.000 robot yang melayani saat ini mungkin digunakan di Korea Selatan. restoran, naik dari hanya 50 pada tahun 2019.

Stephen Hawking menyebut bahwa permasalahan dari teknologi kerap kali digunakan untuk kepentingan industri alih-alih kemanusiaan. Ia mencontohkan otomatisasi industri, dalam hal ini penggunaan robot, telah melahirkan kesenjangan sosial dan ekonomi.

Ia menyebut perkembangan teknologi informasi membuat sebagian kecil kelompok individu untuk memperoleh keuntungan luar biasa dengan mempekerjakan beberapa orang saja. "This is inevitable, it is progress, but it is also socially destructive," kata Hawking.

Permasalahannya, kata Hawking, bukan soal kemajuan teknologi menggantikan manusia. Tapi demi keserakahan segelintir orang, kita menggantikan manusia dengan mesin untuk memperoleh keuntungan lebih banyak. Dampak yang terburuk bukan hanya orang miskin semakin banyak, tetapi efek yang terjadi setelahnya.

Tentu dengan pergantian dari manusia ke teknologi produksi barang akan meningkat. Artinya perusahaan bisa memperoleh produk lebih banyak dengan tenaga lebih sedikit. Tidak perlu ada uang lembur, cuti hamil berbayar, tunjangan hari raya, hingga asuransi kesehatan. Intinya semua pengeluaran yang dihabiskan untuk manusia akan terhenti dan makin murah dengan adanya robot atau kecerdasan buatan.

Stephen Hawking percaya perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan, harusnya bertujuan untuk memberantas penyakit dan kemiskinan. Setiap aspek kehidupan kita akan berubah. Singkatnya, kesuksesan dalam menciptakan AI, bisa menjadi peristiwa terbesar dalam sejarah peradaban kita.

Di sini peran seorang programmer dibutuhkan. Prinsip-prinsip pemrograman komputer yang diterapkan saat ini kemungkinan akan mempengaruhi bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan, dan internet of things akan membantu kualitas hidup kita. Tentu hal ini harus menjadi pertimbangan bagi programmer, bukan sekedar mencari gaji ya.

Jadi kemampuan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam sebuah program atau sepotong kode dan kemampuan untuk membuat kode sangat penting dan akan menjadi semakin penting saat kita menemukan cara baru untuk menggunakan cara hebat ini untuk meningkatkan kualitas peradaban.

Sumber:

Refactory

Refactory adalah pengaktif teknologi digital di Indonesia. Sejak didirikan pada 2015 di Surabaya dan membuka Bootcamp kelas pertama pada 2017 di Bandung, Refactory telah berkembang melebihi Bootcamp dengan menambah berbagai solusi untuk memberdayakan anak-anak muda Indonesia melalui pemrograman, serta membantu perusahaan di tingkat nasional maupun mancanegara untuk merealisasikan potensi mereka.

Kantor Utama di Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 9,8 Sleman, DI Yogyakarta 55581 - Indonesia

© 2017-2022 PT. BIXBOX TEKNOLOGI PERKASA. All rights reserved.